Upaya Peningkatan Kualitas Manajemen SDM melalui Pemanfaatan Teknologi
Informasi(artikel)

Jakarta - Dalam sebuah organisasi
publik, seperti Departemen Keuangan Republik Indonesia, dewasa ini semakin
tinggi tuntutan-tuntutan masyarakat akan tata kelola pemerintahan yang baik.
Antara lain berupa tuntutan untuk meningkatkan pelayanan publik, seperti
pelayanan perpajakan, bea dan cukai, perbendaharaan, kekayaan negara dan
sebagainya. Semakin tinggi pula tuntutan pelayanan yang prima terhadap internal
customer, yaitu para SDM dan manajemen SDM Departemen Keuangan.
Pada suatu sisi yang lain ternyata
pemanfaatan TIK dalam mendukung belum optimal untuk mendukung Sistem Informasi
Manajemen (SIM) SDM walaupun dari sisi jumlah pegawai dan kompleksitas
organisasi sudah sangat membutuhkan bantuan implementasi TIK. Saat ini Departemen
Keuangan memiliki pegawai cukup besar sejumlah 63.000 orang dan memiliki
organisasi birokrasi yang cukup kompleks yang dikategorikan sebagai holding
type company karena memiliki 12 unit eselon I yang core business-nya berbeda
dan ribuan unit vertikal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Kekurang-optimalan SIM SDM dapat
ditengarai dengan ketidakakuratan data pegawai. Pada level Eselon 1 (D-one),
dan (D-two) pusat dan daerah, informasi mengenai current status pegawai
seringkali tidak akurat sehingga secara agregat apabila data SIMPEG dikumpulkan
ke level Departemen Keuangan (Biro SDM) banyak sekali terjadi kekuranglengkapan
maupun kekurangakuratan data. Hal ini dapat mengakibatkan pengambilan keputusan
yang salah misalnya seperti orang yang sudah meninggal dipromosikan, atau orang
sudah pensiun diikutsertakan dalam diklat.
Dampak yang paling terasa adalah
kekurangakuratan informasi SDM akan sangat menghambat proses pengambilan
keputusan manajemen SDM yang baik. Urat nadi keputusan-keputusan strategis dan
operasional dalam perencanaan SDM, rekrutmen, staffing/penempatan, mutasi
jabatan, kepangkatan, pengembangan SDM, pendidikan dan pelatihan,
remunerasi/benefit, disiplin, dan pensiun bergantung kepada aliran informasi
yang akurat.
Untuk memperoleh informasi SDM yang
cepat dan akurat diperlukan sebuah sistem informasi manajemen (SIM) yang
handal. Seberapa handal sistem informasi yang dimiliki tergantung pada kualitas
sub sistem input, pemrosesan, dan penyajian data dan informasi. Untuk membangun
system yang handal tidak hanya cukup dengan memperhatikan faktor teknologi,
namun juga factor struktur organisasi, business process manajemen SDM itu
sendiri, faktor manusia dan budaya kerjanya, dan tentu factor biaya.
Sub-sistem input menangani bagaimana
data kepegawaian dapat dikumpulkan dan diorganisasikan. Sub sistem input data
kepegawaian harus mampu untuk memastikan setiap unit kerja di Depkeu dari
kantor pusat sampai daerah terpencil mempunyai akses ke dalam system baik
online maupun off-line untuk mengalirkan data terbaru pegawainya ke database
SIMPEG Departemen Keuangan.
Sub-sistem pemrosesan menangani
bagaimana data kepegawaian dapat diproses untuk dianalisis. Di dalam proses ini
akan muncul beberapa issue yang critical apakah data akan diproses secara terdistribusi
atau terpusat, proses online atau offline , atau bahkan secara real-time. Issue
di atas perlu untuk dikelola secara tepat agar diperoleh kinerja yang baik dari
sistem informasi manajemen SDM Depkeu.
Sub-sistem ini menangani bagaimana data
dapat disajikan sebagai informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.
Para pengguna (user) dari informasi SDM terbentang secara luas dan dalam dari
unit kerja yang membutuhkan data nominatif Kenaikan Gaji Berkala misalnya
sampai dengan Pimpinan Departemen yang membutuhkan informasi proyeksi jumlah
dan kompetensi SDM untuk semua lini Depkeu. Feedback dari para pengguna data
dan informasi amat penting untuk membuat system berkembang secara sehat dan
terus-menerus agar perbaikan-perbaikan dapat digunakan untuk menyempurnakan
sistem.
Critical objective dari disain SIM untuk
mendukung pengambilan keputusan yang efektif adalah bagaimana system dapat
mengintegrasikan kemampuan computer dan manusia. Apabila terlalu banyak faktor
komputernya maka sistem akan mengarah pada sebuah sistem yang mekanistis, tidak
fleksibel, dan pengambilan keputusan yang tidak komprehensif. Sebaliknya
apabila desain system dukungan manajemennya terlalu banyak unsur manusianya
maka system akan menjadi terlalu lambat dalam merespons, menggunakan data
secara terbatas, dan keterbatasan kemampuan untuk menganalisis data secara
luas.
Wajah cantik dari perkambangan teknologi
informasi adalah kemampuannya untuk mengorganisasi data yang massif dalam
sebuah database system secara mudah yang memungkinkan para pengambil keputusan
untuk menggali berbagai macam informasi secara dalam dan luas. Data transaksi
mutasi kepegawaian sangatlah besar scopenya, dari mulai data penyaringan,
seleksi, CPNS/PNS, jabatan, pangkat, diklat, gaji dan remunerasi, penugasan,
penghargaan, disiplin, pemensiunan, bahkan keluarga, yang terjadi kapan saja.
Seperti diketahui data SDM bersifat
sangat sensitif karena kesalahan record pada satu pegawai dapat menyebabkan
rusaknya integritas sistem. Sebagai misal dalam proses Baperjakat diseleksi
beberapa kandidat yang bersaing untuk sebuah jabatan. Apabila data terkini
pangkat seorang pejabat tidak ada bisa jadi akan mengakibatkan pengangkatan
pejabat yang salah walaupun dari segi soft competency calon pejabat yang tidak
dipilih tersebut lebih cocok dalam jabatan tersebut.
Secara ideal system harus mampu
memmenuhi berbagai kebutuhan informasi yang dibutuhkan para Pembina kepegawaian
secara akurat dan tepat waktu. Kualitas informasi yang prima tentu akan
memudahkan para Pembina kepegawaian untuk membuat penilaian yang mendalam atas
berbagai alternatif pengambilan keputusan kepegawaian. Sekretariat Jenderal
Depkeu tentu amat terbantu dalam penyusunan budgeting Anggaran Belanja Pegawai
Depkeu apabila terdapat data yang akurat mengenai statistik Depkeu.
Pertanyaan-pertanyaan ‘what-if’ apabila
suatu kebijakan kenaikan gaji diimplementasikan dapat dianalisis secara tepat.
Pada gilirannya bantuan SIM SDM tadi dapat meningkatkan ketepatan pengambilan
keputusan Pimpinan yang pada gilirannya akan meningkatkan kinerja organisasi
secara keseluruhan.
Pada akhirnya tidak ada suatu system
informasi manajemen yang superior yang secara alami mampu hidup dan tumbuh
sendiri. Even sebuah sistem yang cerdas, SIM SDM sebagai sistem rekayasa
manusia perlu dirancang, dikembangkan, dan dipelihara secara konsisten dan
terus menerus. Mitos bahwa ‘pembelian hardware’ = ‘pembangunan IT’ perlu untuk
diluruskan agar tidak terjadi simplifikasi atas sebuagh pembangunan system.
Penelitian atas data panel yang luas dari
Prof. C.K. Prahalad dari Massachusetts Institute of Technology menyatakan bahwa
kebanyakan kegagalan IT initiative adalah karena terlalu memfokuskan diri pada
akuisisi hardware dan software dan tidak secara proporsional memperhatikan
factor SDMnya.Dengan komitmen pimpinan yang kuat serta support dari seluruh
jajaran Depkeu kita yakin bahwa kita dapat segera mewujudkan SIM SDM atau
SIMPEG yang handal, Yes, we believe we can change!

Jakarta - Dalam sebuah organisasi
publik, seperti Departemen Keuangan Republik Indonesia, dewasa ini semakin
tinggi tuntutan-tuntutan masyarakat akan tata kelola pemerintahan yang baik.
Antara lain berupa tuntutan untuk meningkatkan pelayanan publik, seperti
pelayanan perpajakan, bea dan cukai, perbendaharaan, kekayaan negara dan
sebagainya. Semakin tinggi pula tuntutan pelayanan yang prima terhadap internal
customer, yaitu para SDM dan manajemen SDM Departemen Keuangan.
Pada suatu sisi yang lain ternyata
pemanfaatan TIK dalam mendukung belum optimal untuk mendukung Sistem Informasi
Manajemen (SIM) SDM walaupun dari sisi jumlah pegawai dan kompleksitas
organisasi sudah sangat membutuhkan bantuan implementasi TIK. Saat ini Departemen
Keuangan memiliki pegawai cukup besar sejumlah 63.000 orang dan memiliki
organisasi birokrasi yang cukup kompleks yang dikategorikan sebagai holding
type company karena memiliki 12 unit eselon I yang core business-nya berbeda
dan ribuan unit vertikal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Kekurang-optimalan SIM SDM dapat
ditengarai dengan ketidakakuratan data pegawai. Pada level Eselon 1 (D-one),
dan (D-two) pusat dan daerah, informasi mengenai current status pegawai
seringkali tidak akurat sehingga secara agregat apabila data SIMPEG dikumpulkan
ke level Departemen Keuangan (Biro SDM) banyak sekali terjadi kekuranglengkapan
maupun kekurangakuratan data. Hal ini dapat mengakibatkan pengambilan keputusan
yang salah misalnya seperti orang yang sudah meninggal dipromosikan, atau orang
sudah pensiun diikutsertakan dalam diklat.
Dampak yang paling terasa adalah
kekurangakuratan informasi SDM akan sangat menghambat proses pengambilan
keputusan manajemen SDM yang baik. Urat nadi keputusan-keputusan strategis dan
operasional dalam perencanaan SDM, rekrutmen, staffing/penempatan, mutasi
jabatan, kepangkatan, pengembangan SDM, pendidikan dan pelatihan,
remunerasi/benefit, disiplin, dan pensiun bergantung kepada aliran informasi
yang akurat.
Untuk memperoleh informasi SDM yang
cepat dan akurat diperlukan sebuah sistem informasi manajemen (SIM) yang
handal. Seberapa handal sistem informasi yang dimiliki tergantung pada kualitas
sub sistem input, pemrosesan, dan penyajian data dan informasi. Untuk membangun
system yang handal tidak hanya cukup dengan memperhatikan faktor teknologi,
namun juga factor struktur organisasi, business process manajemen SDM itu
sendiri, faktor manusia dan budaya kerjanya, dan tentu factor biaya.
Sub-sistem input menangani bagaimana
data kepegawaian dapat dikumpulkan dan diorganisasikan. Sub sistem input data
kepegawaian harus mampu untuk memastikan setiap unit kerja di Depkeu dari
kantor pusat sampai daerah terpencil mempunyai akses ke dalam system baik
online maupun off-line untuk mengalirkan data terbaru pegawainya ke database
SIMPEG Departemen Keuangan.
Sub-sistem pemrosesan menangani
bagaimana data kepegawaian dapat diproses untuk dianalisis. Di dalam proses ini
akan muncul beberapa issue yang critical apakah data akan diproses secara terdistribusi
atau terpusat, proses online atau offline , atau bahkan secara real-time. Issue
di atas perlu untuk dikelola secara tepat agar diperoleh kinerja yang baik dari
sistem informasi manajemen SDM Depkeu.
Sub-sistem ini menangani bagaimana data
dapat disajikan sebagai informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.
Para pengguna (user) dari informasi SDM terbentang secara luas dan dalam dari
unit kerja yang membutuhkan data nominatif Kenaikan Gaji Berkala misalnya
sampai dengan Pimpinan Departemen yang membutuhkan informasi proyeksi jumlah
dan kompetensi SDM untuk semua lini Depkeu. Feedback dari para pengguna data
dan informasi amat penting untuk membuat system berkembang secara sehat dan
terus-menerus agar perbaikan-perbaikan dapat digunakan untuk menyempurnakan
sistem.
Critical objective dari disain SIM untuk
mendukung pengambilan keputusan yang efektif adalah bagaimana system dapat
mengintegrasikan kemampuan computer dan manusia. Apabila terlalu banyak faktor
komputernya maka sistem akan mengarah pada sebuah sistem yang mekanistis, tidak
fleksibel, dan pengambilan keputusan yang tidak komprehensif. Sebaliknya
apabila desain system dukungan manajemennya terlalu banyak unsur manusianya
maka system akan menjadi terlalu lambat dalam merespons, menggunakan data
secara terbatas, dan keterbatasan kemampuan untuk menganalisis data secara
luas.
Wajah cantik dari perkambangan teknologi
informasi adalah kemampuannya untuk mengorganisasi data yang massif dalam
sebuah database system secara mudah yang memungkinkan para pengambil keputusan
untuk menggali berbagai macam informasi secara dalam dan luas. Data transaksi
mutasi kepegawaian sangatlah besar scopenya, dari mulai data penyaringan,
seleksi, CPNS/PNS, jabatan, pangkat, diklat, gaji dan remunerasi, penugasan,
penghargaan, disiplin, pemensiunan, bahkan keluarga, yang terjadi kapan saja.
Seperti diketahui data SDM bersifat
sangat sensitif karena kesalahan record pada satu pegawai dapat menyebabkan
rusaknya integritas sistem. Sebagai misal dalam proses Baperjakat diseleksi
beberapa kandidat yang bersaing untuk sebuah jabatan. Apabila data terkini
pangkat seorang pejabat tidak ada bisa jadi akan mengakibatkan pengangkatan
pejabat yang salah walaupun dari segi soft competency calon pejabat yang tidak
dipilih tersebut lebih cocok dalam jabatan tersebut.
Secara ideal system harus mampu
memmenuhi berbagai kebutuhan informasi yang dibutuhkan para Pembina kepegawaian
secara akurat dan tepat waktu. Kualitas informasi yang prima tentu akan
memudahkan para Pembina kepegawaian untuk membuat penilaian yang mendalam atas
berbagai alternatif pengambilan keputusan kepegawaian. Sekretariat Jenderal
Depkeu tentu amat terbantu dalam penyusunan budgeting Anggaran Belanja Pegawai
Depkeu apabila terdapat data yang akurat mengenai statistik Depkeu.
Pertanyaan-pertanyaan ‘what-if’ apabila
suatu kebijakan kenaikan gaji diimplementasikan dapat dianalisis secara tepat.
Pada gilirannya bantuan SIM SDM tadi dapat meningkatkan ketepatan pengambilan
keputusan Pimpinan yang pada gilirannya akan meningkatkan kinerja organisasi
secara keseluruhan.
Pada akhirnya tidak ada suatu system
informasi manajemen yang superior yang secara alami mampu hidup dan tumbuh
sendiri. Even sebuah sistem yang cerdas, SIM SDM sebagai sistem rekayasa
manusia perlu dirancang, dikembangkan, dan dipelihara secara konsisten dan
terus menerus. Mitos bahwa ‘pembelian hardware’ = ‘pembangunan IT’ perlu untuk
diluruskan agar tidak terjadi simplifikasi atas sebuagh pembangunan system.
Penelitian atas data panel yang luas dari
Prof. C.K. Prahalad dari Massachusetts Institute of Technology menyatakan bahwa
kebanyakan kegagalan IT initiative adalah karena terlalu memfokuskan diri pada
akuisisi hardware dan software dan tidak secara proporsional memperhatikan
factor SDMnya.Dengan komitmen pimpinan yang kuat serta support dari seluruh
jajaran Depkeu kita yakin bahwa kita dapat segera mewujudkan SIM SDM atau
SIMPEG yang handal, Yes, we believe we can change!